Indonesia dikenal sebagai negara tropis dengan paparan sinar matahari sepanjang tahun. Secara teoritis, kondisi ini seharusnya membuat Masyarakat memiliki kadar vitamin D yang cukup.
Indonesia dikenal sebagai negara tropis dengan paparan sinar matahari sepanjang tahun. Secara teoritis, kondisi ini seharusnya membuat Masyarakat memiliki kadar vitamin D yang cukup. Namun, berbagai peneliti justru menunjukan hal sebaliknya yaitu defisiensi vitamin D masih tinggi di Indonesia dan bahkan menjadi perhatian Kesehatan masyarakat.
Sebuah systematic review dan meta-analysis tahun 2023 melaporkan bahwa sekitar 33% anak dan remaja di Indonesia mengalami kekurangan vitamin D, dan kondisi ini dikategorikan sebagai masalah Kesehatan Masyarakat. Pada kelompok ibu hamil, prevalensinya bahkan dapat mencapai lebih dari 60%. Temuan ini menegaskan bahwa ketersediaan sinar matahari tidak selalu menjamin kecukupan vitamin D dalam tubuh.
Bagaimana tubuh memproduksi vitamin D?
Vitamin D diproduksi secara alami di kulit melalui paparan sinar ultraviolet B (UVB). Ketika kulit terpapar UVB, senyawa 7-dehydrocholesterol di tubuh diubah menjadi previtamin D3 yang kemudian diproses lebih lanjut di hati dan ginjal menjadi bentuk aktif (calcitrio). Namun proses ini sangat dipengaruhi oleh berbagai factor sehingga tidak semua orang dapat menghasilkan vitamin D dalam jumlah yang optimal meskipun tinggal di daerah dengan sinar matahari melimpah.
Mengapa defisiensi vitamin D tetap terjadi?
1. Paparan sinar matahari yang tidak optimal
Produksi vitamin D paling efektif terjadi saat intensitas UVB tinggi yaitu sekitar pukul 10:00 – 14:00. Sayangnya, pada waktu itu sebagian besar orang justru berada di dalam ruangan, baik untuk bekerja maupun belajar. Paparan sinar matahari pagi atau sore hari cenderung mengandung lebih sedikit UVB sehingga kurang efektif untuk sintesis vitamin D.
2. Gaya hidup indoor
Perubahan gaya hidup modern menyebabkan sebagian besar aktivitas dilakukan di dalam ruangan. Penggunaan perangkat digital, pekerjaan kantor, serta minimnya aktivitas luar ruangan berkontribusi pada rendahnya paparan sinar matahari secara langsung.
3. Pigmentasi kulit
Melanian pada kulit berfungsi sebagai pelindung alami dari radiasi ultraviolet. Namun, kadar melanin yang tinggi juga mengurangi kemampuan kulit dalam memproduksi vitamin D. itu artinya individu dengan kulit lebih gelap membutuhkan waktu paparan matahari yang lebih lama untuk menghasilkan vitamin D dalam jumlah yang sama.
4. Penggunaan sunscreen dan proteksi matahari
Penggunaan sunscreen, pakaian tertutup serta kebiasaan berteduh dapat mengurangi jumlah sinar UVB yang mencapai kulit. Secara teoritis, sunscreen dengan SPF tinggi dapat menurunkan produksi vitamin D secara signifikan, meskipun efeknya dalam kehidupan sehari-hari bisa bervariasi.
5. Asupan nutrisi yang rendah
Vitamin D secara alami hanya ditemukan dalam jumlah terbatas pada makanan seperti ikan berlemak, hati dan kuning telur. Di Indonesia, konsumsi makanan tersebut masih relative rendah dan fortifikasi vitamin D belum merata.
Risiko paparan sinar UV berlebihan
Meskipun sinar matahari penting untuk sintesis vitamin D, paparan berlebihan terhadap radiasi ultraviolet juga memiliki dampak negative terutama pada Kesehatan kulit. Radiasi ultraviolet terdiri dari:
1. UVB, yang berperan dalam produksi vitamin D
2. UVA, yang menembus lebih dalam ke kulit serta dapat berkontribusi pada penuaan dini.
Paparan UVA dalam jangka Panjang dapat menyebabkan photoaging yaitu penuaan kulit akibat sinar matahari. Secara biologis, sinar UV dapat:
1. Meningkatkan produksi reactive oxygen species (ROS)
2. Merusak kolagen dan elastin
3. Mempercepat degradasi struktur kulit
Akibatnya muncul tanda-tanda seperti keriput, kulit kendur dan hiperpigmentasi. Bahkan diperkirakan hingga 80-90% penuaan kulit wajah dipengaruhi oleh paparan sinar matahari, bukan semata-mata proses penuaan alami.
Risiko kekurangan vitamin D
Namun kekurangan vitamin D juga memiliki beberapa Risiko yang berbahaya bagi tubuh kita, diantaranya:
1. Tulang melemah dan rapuh
Kekurangan vitamin D bisa menghambat penyerapan kalsium sehingga tulang menjadi rapuh (osteoporosis), nyeri tulang dan sendi, pada anak bisa menyebabkan rachitis yaitu kelainan pertumbuhan tulang. Pada orang dewasa kondisi ini juga bisa berkembang menjadi osteomalasia (pelunakan tulang).
2. Penurunan kekuatan otot
Vitamin D berperan dalam fungsi otot. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan otot terasa lemah, mudah Lelah, dan Risiko jatuh meningkat terutama pada lansia.
3. System imun lemah
Vitamin D membantu tubuh melawan infeksi. Defisiensi dapat meningkatkan Risiko diantaranya infeksi saluran pernapasan, dan proses penyembuhan yang lebih lambat.
4. Gangguan mood dan Kesehatan
Sejumlah peneliti menemukan hubungan antara kekurangan vitamin D dengan kelelahan kronis, perubahan suasana hati dan Risiko depresi. Hal ini karena vitamin D juga berperan dalam fungsi otak dan regulasi hormon.
5. Meningkatkan Risiko penyakit kronis
Defisiensi vitamin D dalam jangka Panjang dikaitkan dengan peningkatan Risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2 dan penyakit autoimun.